Guest

Senin, 11 Maret 2013

Mengabdi Negeri : Dilema yang (tidak selalu) Berujung Tragedi


ini tulisan temen gue yang sangat luar biasa orang nya, namanya Maria Putri Rosari, temen sejurusan gue dia berasal dari . . . (Surabaya, Gresik, dan Jakarta) 
Blog: http://olajoann.blogspot.com/
Fb: facebook.com/mariaputri.rosari

Ini Dia Orangnya :



“Setelah lulus nanti, masih adakah idealisme dalam diri kalian? Masih adakah keinginan dan panggilan untuk memberikan suatu pengabdian kepada negeri ini? Paling-paling yang ada dalam pikiran kalian nanti hanyalah karier yang kalian kejar, tempat kerja yang menghasilkan banyak uang, keluarga yang akan kalian bangun. Sudah. Lalu semuanya akan berjalan begitu-begitu saja sampai akhir hidup kalian.” 
  
   Satu bulan yang lalu, dalam suatu forum besar dari rangkaian kegiatan pengaderan (kegiatan semacam ospek atau inisiasi di kampus saya), salah seorang senior yang merupakan koordinator konseptor atau lebih dikenal dengan SC (Steering Comittee) mendadak mengucapkan kalimat yang baru saja saya kutip tersebut.
   Bicara soal pengaderan, terus terang saja, saya tidak menaruh banyak perhatian di sana. Yang saya lakukan selama ini hanyalah menjalani semuanya secara biasa saja dan terus berharap semua ini akan berlalu sesegera mungkin. Saya cukup gerah dengan banyaknya omelan dan amukan serta tugas yang diberikan senior-senior saya di kampus atas nama kesolidan satu angkatan yang harus dibangun.
   Namun hari itu, setelah forum berakhir, serangkaian kalimat yang senior saya lontarkan tadi berubah menjadi teror yang terus memburu pikiran dan hati saya hingga kini saya buat tulisan ini. Suatu tanda tanya yang menghantui pikiran manusia-manusia usia produktif Indonesia tidak terkecuali mahasiswa. Mengabdi? Sudahkah?

Danet dan Habibie, Tucuxi dan N250 

    Akhir-akhir ini dua nama itu kerap kali muncul dalam pemberitaan nasional baik melalui media cetak atau media elektronik. Danet Suryatama, laki-laki asal Yogyakarta yang berhasil membuat mobil listrik sport, Tucuxi, yang selama beberapa waktu lalu berhasil menuai kekaguman dari khalayak sekaligus membawa angin segar di tengah kebobrokan bangsa ini.
    Selama beberapa waktu, karya hebatnya itu terus menerus menjadi sasaran sorot media, membuat nama Danet menjadi harum, membuat tercengang siapa pun yang menyaksikannya secara langsung. Namun, dalam sekejap mata, seluruh upaya dan pengorbanan yang telah ia persembahkan itu terkubur dalam-dalam bersama ringseknya Tucuxi dalam sebuah kecelakaan. Karyanya dibongkar tanpa sepengetahuannya, ide dan kerja kerasnya serta merta dicuri, perjanjian yang telah dibut bersamanya begitu saja dilanggar.
    Berita pengakuan tentang kesedihan hati Danet yang saya baca membuat saya menjadi ikutan kesal dan merasa prihatin lantaran sebegitu mudahnya proyek besar itu hancur dan dilupakan. Benar saja, hingar bingar masa kejayaan Tucuxi tersebut hanya bertahan sebentar. Tidak banyak media yang menyorot kembali nasib Danet dan Tucuxi buatannya setelah mobil itu hancur. Tidak banyak pula masyarakat yang menaruh perhatian kembali kepada sesuatu yang dulu amat dibanggakan. Entahlah, apakah banyak dari antara mereka yang merasakan apa yang saya rasakan ini?
    Tidak jauh-jauh dari Danet, B. J. Habibie yang kini terus mendapat perhatian publik karena kisah cintanya dengan Ainun diangkat ke layar lebar, pernah bernasib sama. Pesawat N250, proyek besar buah pemikiran dan kerja kerasnya kini hanya bisa dinikmati secara visual saja dalam kondisi berdebu dan kotor bersamaan dengan ditutupnya IPTN kala itu. Video peluncuran perdana pesawat tersebut di Bandara Hussein Sastranegara kini hanya menjadi sepenggal kenangan manis yang sempat terekam atas prestasinya yang harus terhenti. Fakta bahwa Indonesia masih harus mengimpor armada-armada udaranya sampai hari ini padahal dahulu harapan besar telah sempat menjadi kenyataan membuat semuanya terasa mengecewakan.
    Kisah Danet. Kisah Habibie. Dua kisah tadi mungkin hanyalah segelintir kecil kisah pilu yang pernah terukir di tanah Indonesia. Jika kita mau membuka mata lebih lebar lagi lalu secara teliti mengamati, ada sangat banyak manusia-manusia potensial Indonesia yang terpaksa menelan sendiri kekecewaan mereka atas hasil jerih payah mereka yang kurang dihargai bahkan terabaikan walaupun senyatanya karya-karya mereka tidaklah kalah dari penemuan-penemuan yang berpengaruh di negara maju lainnya. Secara kasarnya, mereka ditolak di tanah mereka sendiri. Andy F. Noya dalam acaranya, Kick Andy, pernah menghadirkan beberapa dari antara mereka yang sebagian besar memilih untuk menetap dan bekerja di luar negeri karena di sana mereka mengaku jauh lebih dihargai dan dijamin kesejahteraannya.

Mantap atau Meragu?

    Cerita-cerita sedih demikian semakin hari semakin tersorot media, membuat publik semakin mengerti bagaimana Indonesia kini. Generasi-generasi produktif kian enggan terjun secara langsung mengambil peran perubahan untuk kemajuan bangsa. Ada memang, tetapi hanya sebagian kecil, amat kecil. Semuanya kian sibuk dengan urusan masing-masing seperti yang terlukis dalam kalimat yang menjadi kutipan di awal tadi. Sebagian besar mengaku malas dan bersikap apatis. Toh nanti akhirnya juga akan sama saja, begitu-begitu saja. Percuma.
    Jelas saja, siapa yang tidak ogah-ogahan jika perjuangan dan pengorbanan dalam jangka waktu yang lama hanya bisa ditukar dengan ketidakpastian dan sikap acuh tak acuh. Hal itu sungguh manusiawi. Bahkan ketika seandainya saya berada di posisi mereka, saya juga akan memilih negara lain yang mau memberikan lebih banyak kesempatan dan fasilitas bagi saya untuk bisa mengembangkan penemuan-penemuan saya tersebut. Walaupun pada dasarnya penemuan tadi dibuat secara ikhlas dengan tujuan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik serta memajukan ilmu pengetahuan yang ada. Idealisme dan keyakinan untuk bisa membawa bangsa kepada perubahan yang lebih baik kian tergerogoti realita yang ada.
    Dari sudut pandang mahasiswa teknik, saya beranggapan bahwa angan-angan untuk menciptakan teknologi mutakhir di Indonesia hanyalah sekedar angan-angan yang sulit sekali diwujudkan. Jika disuruh memilih mengabdi di negara sendiri atau di luar ketika seandainya nanti saya sudah cukup ilmu dan pengalaman, saya yakin saya akan menjawab, “Ya, pikir-pikir dulu. Lihat kondisi dulu. Lihat mana yang bisa memberikan keuntungan lebih.”

Angin Segar Masih Terus Berhembus
    Suatu hari dalam percakapan bersama kedua orangtua saya mengenai kehidupan seputar kampus, Bapak saya tiba-tiba menyeletuk, “Kamu jangan hedon terus, jangan lupa ini masih tingkat satu kuliahmu, tugas utamamu itu belajar.”
    Saya lalu menjawab, “Lah apaan, masa setiap saat harus belajar. Gila, jenuh lah!”
    Ibu saya gantian berkomentar, “Ya bukan begitu. Ibaratnya seperti ini, kamu dapat beasiswa kuliah di luar negeri, ya tugas yang kamu bawa dari negaramu itu untuk belajar. Bukan berarti harus belajar setiap saat tapi fokusmu di sana untuk belajar, setelah itu kamu pulang lagi ke negara asalmu, bukannya malah cari kerja cari uang di negara orang terus lupa sama negara sendiri.”
    Entah mengapa, komentar Ibu saya yang sebenarnya di luar konteks percakapan awal tadi mendadak membuat saya merasa ‘jleb’. Seakan-akan komentar ibu saya ini menjadi suatu pernyataan pendukung dari pernyataan sebelumnya yang sudah diucapkan senior saya kala itu.
    Dalam waktu yang berdekatan, jawaban atas permasalahan mengenai dilema mengabdi kepada negeri ini kembali bermunculan. Dalam sekumpulan cerita yang terangkum dalam buku berjudul ‘Orang Miskin (Boleh) Sukses Sekolah’ karya M. Sanusi ada satu kisah yang amat berkesan mengenai sebuah pengabdian yang berbuah manis.
    Kisah tersebut milik adalah Yohanes Surya, si anak miskin jenius pecinta fisika yang berkesempatan meraih beasiswa besar dan berhasil meraih predikat summa cum laude dalam kelulusannya dari pendidikan program pascasarjana dan doktor di College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat. Atas keberhasilannya tersebut, ia langsung mendapatkan green card, surat izin bekerja di Amerika Serikat dengan jaminan masa depan karier serta penghasilan besar.
    Bicara soal sifat manusiawi, kita pasti sudah menduga bahwa peluang besar yang ia dapatkan melalui green cardtadi mungkin akan langsung ia manfaatkan sebagai langkah awal meraih kesuksesan dan keuntungan sebesar-besarnya. Hidup nyaman di negara maju tanpa perlu bersusah payah karena segalanya sudah terjamin. Namun, keputusan yang akhirnya ia ambil malah sebaliknya, ia memilih pulang lagi ke Indonesia untuk mengembangkan dan membagi ilmunya di negaranya sendiri.
    Langkah yang ia ambil selanjutnya adalah mendirikan suatu organisasi bersama TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) suatu wadah pendampingan para pelajar Indonesia untuk mempersiapkan diri dalam kompetisi Olimpiade Fisika tingkat Internasional. Tidak tanggung-tanggung, jerih payahnya itu menghasilkan prestasi besar, dimulai dari satu medali perunggu yang diperoleh dalam Olimpiade Fisika di Amerika Serikat. Dilanjutkan dengan perolehan tiga medali emas, satu medali perak, dan satu medali perunggu pada Olimpiade Fisika Internasional XXXIII di Bali tahun 2002. Kemudian enam medali emas dan dua honorable mention serta gelar juara umum pada Olimpiade Fisika Asia IV di Bangkok, 2003. Dan yang paling mengharumkan adalah gelar absolute winner yang didapat anak didiknya pada Olimpiade Fisika Internasional XXXVII di Singapura tahun 2006.
    Yohanes Surya kini telah menjelma menjadi ilmuwan besar sekaligus fisikawan pendidik. Ia terus bepergian ke tiap-tiap kota di Indonesia untuk melatih para guru fisika serta mencari benih-benih baru untuk bisa dikembangkan lebih lanjut melalui metode Fisika Gasing atau singkatan dari Gampang, Asyik, dan Menyenangkan. Beruntung sekali saya pernah berkesempatan bertemu dan belajar langsung dengannya ketika dahulu saya duduk di kelas II SMP.
    Didikan dan ajaran yang diberikan Yohanes Surya tersebut telah menghasilkan karya-karya luar biasa serta berhasil mengantarkan banyak anak-anak Indonesia menjadi unggul dalam persaingan di kancah internasional. Terbukti dari banyaknya medali yang didapat tadi serta semakin banyaknya tawaran beasiswa bagi alumni-alumni TOFI untuk bisa berkuliah di perguruan-perguruan tinggi ternama dunia.
    Keputusan Yohanes Surya secara rendah hati untuk kembali ke negaranya tanpa ragu dan mengabdi dengan sepenuh hati tersebut membawa anugerah tersendiri untuk negara yang terus menerus mengalami krisis seperti ini. Bahkan krisis kepercayaan untuk bisa membawa bangsa kepada perubahan yang lebih baik. Kisah Yohanes Surya membawa banyak inspirasi untuk kita semua bahwa sesungguhnya akan ada angin segar yang terus berhembus untuk negeri ini seandainya kita dengan rendah hati mau kembali mengabdi untuk negara ini.
    Danet dan Habibie mungkin saja hanyalah segelintir orang yang belum bernasib baik di awalnya. Mungkin saja mereka belum berada di waktu dan kondisi yang tepat. Sehingga mau tidak mau, tragedi dan kekecewaanlah yang mereka dapatkan. Namun, kalau kita mau menyadarinya kembali, kehadiran Danet dan Habibie, walaupun secara langsung karya jerih payah mereka terabaikan bahkan hancur, mereka telah membawa terang dan inspirasi untuk masyarakat Indonesia kini. Benar adanya bahwa dunia ini memang kejam, pemberitaan media mengenai euforia mereka mungkin hanya mampu bertahan sesaat saja, tetapi sekejam-kejamnya dunia, dunia tidaklah buta. Masih ada pasang-pasang mata yang mampu menangkap dan menilai usaha keras mereka lalu menjadikannya titik tolak untuk berkarya lebih lanjut.
    Terbukti, beberapa saat setelah mobil Tucuxi diluncurkan, program-program dan aktivitas riset mengenai mobil listrik kembali giat dijalankan, salah satunya mobil listrik karya beberapa mahasiswa di kampus saya, ITS, yang baru-baru ini diresmikan. Pesawat yang diciptakan Habibie memang sudah mangkrak dan tersingkirkan, tetapi coba tengoklah beberapa siswa SMK yang telah berhasil menciptakan pesawat terbang ‘Jabiru’.

Mengabdi itu Mulia
    Terjawab sudah sentilan-sentilan yang berawal dari serangkaian kalimat yang senior saya utarakan mengenai pengabdian. Semoga suatu hari nanti, setiap orang di Indonesia, dengan bidang keahlian mereka masing-masing dapat berkontribusi lebih untuk tanah airnya. Semoga lahir penemuan-penemuan besar dan mutakhir dari tangan-tangan negeri ini sendiri yang tidak kalah dari penemuan-penemuan negara-negara maju. Semoga usaha keras yang panjang dari setiap pemikir dan penggagas inovasi untuk kemajuan bangsa ini lebih dapat dihargai dan membuahkan hasil yang manis. Semoga segala aspek ilmu pengetahuan yang ada dapat membangun suatu sinergi untuk bisa menghasilkan kehidupan yang lebih layak dan lebih sejahtera untuk Indonesia. Terakhir, semoga idealisme ini tidak terus tergerogoti realita seiring berjalannya waktu.

Februari 2013 (mpr)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar